NABI MUHAMMAD SAW SEMASA KECIL
Dilahirkan di Makkah, kira-kira 200 M dari
Masjidil Haram, pada senin menjelang terbitnya fajar 12 Rabi’ul Awal tahun
Gajah bertepatan dengan 20 April 571 M. Dinamakan tahun Gajah karena pada waktu
itu bala tentara Abrahah dari Yaman menyerang Ka’bah dengan maksud akan
meruntuhkannya. Mereka datang dengan mengendarai Gajah. Namun penyerangan itu
gagal total karena Allah mengirim burung Ababil yang menjatuhkan batu-batu dari
neraka kepada mereka. Seperti yg diceritakan Allah swt pada surat Al Fiil.
Menurut seorang pendapat, Nabi Muhammad
saw lahir 50 hari setelah peristiwa itu, demikian Ibnu Ishak. Ada pula pendapat
yang menyatakan 30 hari, 40 hari dan 55 hari. Tanggalnya pun terjadi perbedaan
pada ahli sejarah. Ada yang mengatakan 2, 8, 9, 13,17 dan 18 Rabi’ul Awal.
Namun penduduk Makkah sependapat tanggal 12 Rabi’ul Awal, karena mereka dahulu
kala mengadakan ziarah ke tempat itu pada tiap tanggal tersebut.
Adapun saat kelahiran Beliau itu menurut
yang masyhur menjelang terbit fajar, pada waktu saat doa dimakbulkan Allah.
Dilahirkannya Nabi Muhammad saw pada bulan Rabi’ul Awal, musimnya bunga
berkembang adalah merupakan isyarat bahwa ajaran yang dibawanya akan berkembang
di seluruh dunia.
Mengenai silsilah keturunan Nabi Muhammad
saw adalah sebagai berikut : Muhammad bin Abdullah (lahir 545 M) bin Abdul
Muthalib (497 M) bin Hasyim (464 M) bin Abdul Manaf (430 M) bin Qushai (400 M)
bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nadhar
bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad
bin Adnan dan seterusnya berselisih pendapat ahli sejarah sampai anak Syits dan
Adam.
Ayah Nabi Muhammad saw, Abdullah meninggal
dalam perjalanan pulang. Sehabis berniaga dari Syam lalu ia singgah di Madinah,
kemudian jatuh sakit dan tiada lama meninggal dunia dan dimakamkan di situ.
Pada saat itu Nabi saw masih di dalam kandungan.
Sejak dalam kandungan telah nampak
tanda-tanda kebesaran Nabi Muhammad saw, tatkala Nur Muhammad masuk ke dalam
rahim ibundanya, Aminah. Allah memerintahkan kepada Malaikat membuka pintu
surga Firdaus dan memberitahukannyaa kepada semua penghuni langit dan bumi.
Tanah-tanah yang tadinya kering menjadi subur, pohon-pohon kayu berdaun rimbun
dan berbuah lebat, angin berhembus sepoi-sepoi basa, binatang-binatang di darat
dan di laut ramai gembira memperbincangkannya.
Menurut keterangan Aminah, ketika
kandungannya genap 6 bulan datanglah seorang tidak dikenal pada suatu malam
seraya mengatakan “Hai Aminah, sesungguhnya anda mengandung seorang pemimpin
besar, apabila lahir kelak, namakanlah dia dengan Muhammad !”
“Waktu itu aku sendirian dalam kamar
sedangkan Abdul Muthalib thawaf keliling Ka’bah. Menjelang kelahiran Muhammad,
kudengar suara gemuruh gegap gempita dan bersamaan dengan itu kulihat seekor
burung menyapu-nyapukan sayapnya ke hatiku, maka hilanglah ketakutanku. Aku
berpaling, tiba-tiba tampak di hadapanku semangkuk minuman berwarna putih,
lantas aku meminumnya. Serentak dengan itu kulihat cahaya memancar sampai ke
lagit, kemudian muncul wanita-wanita setinggi pohon kurma, seolah-olah putri
dari Abdul Manaf, mereka langsung memegangku. Dalam keadaan gugup dan
tercengang, aku bertanya tentang perihal mereka. Mereka menjawab bahwa mereka
adalah Asiah istri Fir’aun yang beriman, Maryam anak Imran dan bidadari dari
surga.
Kemudian beberapa laki-laki tegak berdiri
di angkasa memegang beberapa cerek dari perak dan beberapa ekor burung yang
paruhnya dari permata zamrud dan sayap-sayapnya dari permata ya’kut memenuhi
kamarku.
Allah membukakan pemandanganku, maka
kulihat belahan bumi dari timur ke barat, 3 buah bendera berkibar, 1 di timur,
1 di barat dan 1 lagi dibelakang Ka’bah. Sejurus kemudian aku pun melahirkan
Muhammad dengan dirawat bidan-bidang dari surga tadi. Kulihat Muhammad sujud ke
lantai lalu mengangkat jari-jari tangannya ke langit. Sesudah itu kudengar
suara gaib yang menyatakan, “Bawa dia keliling bumi dari timur ke barat dan
masukkan ke dalam laut, supaya semua makhluk mengenalnya.” Kemudian suara gaib
itupun hilang. Pada malam kelahiran Nabi Muhammad saw, memancarlah sinar dari
Aminah sampai ke negeri Syam (Syiria) sebagai isyarat pada suatu waktu kelak
Nabi Muhammad saw akan berkunjung ke sana.
Menurut seorang Ulama, Nabi Muhammad saw
lahir tidak seperti manusia lainnya yaitu keluar dari kemaluan ibunya, tapi
dari dalam perut ibunyakeluar cahaya yang begitu terang lalu terlihat
Nabi saw dalam keadaan bersujud. Menurut riwayat lain, Nabi Muhammad saw lahir
dengan meletakkan dua tangannya di lantai, mengangkatkan kepalanya ke langit
sebagai pertanda ketinggian martabatnya dari semua makhluk. Beliau lahir dalam
keadaan bersih, sudah berkhitan, sudah terpotong tali pusarnya, wangi, bercelak
mata dengan kodrat Allah swt. Menurut sebagian ahli sejarah, Beliau dikhitan
oleh Abdul Muthalib sesudah berusia 7 hari dalam suatu upacara jamuan dan
sekaligus menamakannya dengan “Muhammad”.
Serentak dengan kelahiran Nabi Muhammad
saw, singgasana Kaisar di Madain runtuh, api sembahan orang Majusi di Persia
yang sejak 1000 tahun menyala, menjadi padam. Menurut riwayat lainnnya juga,
ketika kelahiran Nabi saw, berhala-berhala disekitar Ka’bah jatuh lalu bersujud
karena kelahiran Nabi saw
Pertumbuhan badannya begitu cepat. Umur 3
bulan dapat berdiri, umur 5 bulan dapat berjalan, umur 9 bulan telah cukup kuat
dan berbicara lancar. Beberapa hari Beliau menyusu kepada Ibunya, kemudian
disusukan oleh Tsuwaibatul-Aslamiah, budak Abu Lahab yang dimerdekakannya
setelah mendengar Nabi Muhammad saw lahir. Tsuwaibah selain menyusukan Nabi
saw, juga menyusukan anaknya, menyusukan Abu Salamah dan sebelum itu menyusukan
Hamzah, paman Nabi saw.
Kemudian Nabi sawa disusukan Halimah
binti Abi Zuaib As-Sa’diah, di desa Bani Sa’ad. Beliau diasuh oleh putrinya yang
bernama Syiama. Setelah 2 tahun menghirup udara desa, Beliau dikembalikan
kepada ibunya, kemudian dibawa ke desa kembali, bergaul dengan penduduk selama
5 tahun. Selama menyusukan Nabi saw, Halimah mendapat berkah, ternaknya subur
berkembang biak, air susunya banyak dan rezekinya lapang.
Sebelum berusia 3 tahun dadanya dibedah
oleh Malaikat Jibril dan ketika berusia 6 tahun, ibunya Aminah meninggal dunia
di Abwa’, Madinah ketika berziarah ke makam ayahandanya Nabi saw bersama Nabi
saw. Maka jadilah Beliau saw yatim piatu, lalu Beliau saw diasuh oleh kakeknya,
setelah kakeknya meninggal Beliau saw diasuh oleh pamannya, Abu
Thalib.
Abu Thalib menjadi pengasuh setia bagi
Nabi Muhammad, diajaknya beliau berdagang ke Syam. Dilewatinya perjalanan
dagang yang telah dilewati ayahnya, dan menikmati perjalan itu dengan
membuktikan cerita-cerita orang yang telah didengarnya. Ditengah perjalanan ia
berjumpa dengan seorang Rahib Buhaira yang bernama nastur, melihat tanda-tanda
kenabian padanya, bahwa akan datang suatu hari kelak para pedagang dari arah
selatan yang akan membawa seorang anak yang akan menjadi Nabi akhir zaman, lalu
ia berkata kepada Abu Thalib: ”Sesungguhnya anak ini akan memiliki urusan
besar”.
Pada masa kecilnya, nabi juga
menggembalakan kambing sebagaimana nabi-nabi sebelumnya, untuk menempa dirinya
melihat alam yang luas membentang, langit yang terbuka dan alam sekitarnya
untuk ia renungkan sejak masa kecilnya
DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW
·
DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH
1. Masyarakat Arab Jahiliyah Periode
Mekah
Objek dakwah Rasulullah SAW pada awal
kenabian adalah masyarakat Arab Jahiliyah, atau masyarakat yang masih berada
dalam kebodohan. Dalam bidang agama, umumnya masyarakat Arab waktu itu sudah
menyimpang jauh dari ajaran agama tauhid, yang telah diajarkan oleh para rasul
terdahulu, seperti Nabi Adam A.S. Mereka umumnya beragama watsani atau agama
penyembah berhala. Berhala-berhala yang mereka puja itu mereka letakkan di
Ka’bah (Baitullah = rumah Allah SWT). Di antara berhala-berhala yang termahsyur
bernama: Ma’abi, Hubai, Khuza’ah, Lata, Uzza dan Manar. Selain itu ada pula
sebagian masyarakat Arab Jahiliyah yang menyembah malaikat dan bintang yang
dilakukan kaum Sabi’in.
2. Pengangkatan Nabi Muhammad SAW
sebagai Rasul
Pengangkatan Muhammad sebagai nabi atau
rasul Allah SWT, terjadi pada tanggal 17 Ramadan, 13 tahun sebelum hijrah (610
M) tatkala beliau sedang bertahannus di Gua Hira, waktu itu beliau genap
berusia 40 tahun. Gua Hira terletak di Jabal Nur, beberapa kilo meter sebelah
utara kota Mekah.
Muhamad diangkat Allah SWT, sebagai nabi
atau rasul-Nya ditandai dengan turunnya Malaikat Jibril untuk menyampaikan
wahyu yang pertama kali yakni Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq, 96: 1-5. Turunnya ayat
Al-Qur’an pertama tersebut, dalam sejarah Islam dinamakan Nuzul Al-Qur’an.
Menurut sebagian ulama, setelah turun
wahyu pertama (Q.S. Al-‘Alaq: 1-5) turun pula Surah Al-Mudassir: 1-7, yang
berisi perintah Allah SWT agar Nabi Muhammad berdakwah menyiarkan ajaran Islam
kepada umat manusia.
Setelah itu, tatkala Nabi Muhammad SAW
berada di Mekah (periode Mekah) selama 13 tahun (610-622 M), secara
berangsur-angsur telah diturunkan kepada beliau, wahyu berupa Al-Qur’an
sebanyak 4726 ayat, yang meliputi 89 surah. Surah-surah yang diturunkan pada
periode Mekah dinamakan Surah Makkiyyah.
3. Ajaran Islam Periode Mekah
Ajaran Islam periode Mekah, yang harus
didakwahkan Rasulullah SAW di awal kenabiannya adalah sebagai berikut:
a. Keesaan Allah SWT
b. Hari Kiamat sebagai hari pembalasan
c. Kesucian jiwa
d. Persaudaraan dan Persatuan
b. Hari Kiamat sebagai hari pembalasan
c. Kesucian jiwa
d. Persaudaraan dan Persatuan
·
STRATEGI DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH
Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada
periode Mekah adalah agar masyarakat Arab meninggalkan kejahiliyahannya di
bidang agama, moral dan hokum, sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran
kerasulan nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam yang disampaikannya, kemudian
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi dakwah Rasulullah SAW dalam
berusaha mencapai tujuan yang luhur tersebut sebagai berikut:
1. Dakwah secara Sembunyi-sembunyi
Selama 3-4 Tahun
Pada masa dakwah secara
sembunyi-sembunyi ini, Rasulullah SAW menyeru untuk masuk Islam, orang-orang
yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat
dekatnya. Mengenai orang-orang yang telah memenuhi seruan dakwah Rasulullah SAW
tersebut adalah: Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW, wafat tahun
ke-10 dari kenabian), Ali bin Abu Thalib (saudara sepupu Rasulullah SAW yang
tinggal serumah dengannya), Zaid bin Haritsah (anak angkat Rasulullah SAW), Abu
Bakar Ash-Shiddiq (sahabat dekat Rasulullah SAW) dan Ummu Aiman (pengasuh
Rasulullah SAW pada waktu kecil).
Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berdakwah
ajaran Islam sehingga ternyata beberapa orang kawan dekatnya menyatakan diri
masuk Islam, mereka adalah:
۞ Abdul Amar dari Bani Zuhrah
۞ Abu Ubaidah bin Jarrah dari Bani Haris
۞ Utsman bin Affan
۞ Zubair bin Awam
۞ Sa’ad bin Abu Waqqas
۞ Thalhah bin Ubaidillah.
Orang-orang yang masuk Islam, pada masa
dakwah secara sembunyi-sembunyi, yang namanya sudah disebutkan d atas disebut
Assabiqunal Awwalun (pemeluk Islam generasi awal).
2. Dakwah secara terang-terangan
Dakwah secara terang-terangan ini
dimulai sejak tahun ke-4 dari kenabian, yakni setelah turunnya wahyu yang
berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan.
Wahyu tersebut berupa ayat Al-Qur’an Surah 26: 214-216.
Tahap-tahap dakwah Rasulullah SAW secara
terang-terangan ini antara lain sebaga berikut:
Mengundang kaum kerabat keturunan dari
Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak agar masuk Islam. Walau
banyak yang belum menerima agama Islam, ada 3 orang kerabat dari kalangan Bani
Hasyim yang sudah masuk Islam, tetapi merahasiakannya. Mereka adalah Ali bin
Abu Thalib, Ja’far bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.
Rasulullah SAW mengumpulkan para penduduk kota Mekah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shafa.
Rasulullah SAW mengumpulkan para penduduk kota Mekah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shafa.
Pada periode dakwah secara
terang-terangan ini juga telah menyatakan diri masuk Islam dari kalangan kaum
kafir Quraisy, yaitu: Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi SAW) dan Umar bin
Khattab. Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam pada tahun ke-6 dari kenabian,
sedangkan Umar bin Khattab (581-644 M).
Rasulullah SAW menyampaikan seruan
dakwahnya kepada para penduduk di luar kota Mekah. Sejarah mencatat bahwa
penduduk di luar kota Mekah yang masuk Islam antara lain:
۞ Abu Zar Al-Giffari, seorang tokoh dari
kaum Giffar.
۞ Tufail bin Amr Ad-Dausi, seorang
penyair terpandang dari kaum Daus.
۞ Dakwah Rasulullah SAW terhadap
penduduk Yastrib (Madinah). Gelombang pertama tahun 620 M, telah masuk Islam
dari suku Aus dan Khazraj sebanyak 6 orang. Gelombang kedua tahun 621 M,
sebanyak 13 orang, dan pada gelombang ketiga tahun berikutnya lebih banyak
lagi. Diantaranya Abu Jabir Abdullah bin Amr, pimpinan kaum Salamah.
Pertemuan umat Islam Yatsrib dengan
Rasulullah SAW pada gelombang ketiga ini, terjadi pada tahun ke-13 dari
kenabian dan menghasilkan Bai’atul Aqabah. Isi Bai’atul Aqabah tersebut
merupakan pernyataan umat Islam Yatsrib bahwa mereka akan melindungi dan
membela Rasulullah SAW. Selain itu, mereka memohon kepada Rasulullah SAW dan
para pengikutnya agar berhijrah ke Yatsrib.
3. Reaksi Kaum Kafir Quraisy terhadap
Dakwah Rasulullah SAW
Prof. Dr. A. Shalaby dalam bukunya
Sejarah Kebudayaan Islam, telah menjelaskan sebab-sebab kaum Quraisy menentang
dakwah Rasulullah SAW, yakni:
Kaum kafir Quraisy, terutama para
bangsawannya sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak dan kedudukan antara
semua orang. Mereka mempertahankan tradisi hidup berkasta-kasta dalam
masyarakat. Mereka juga ingin mempertahankan perbudakan, sedangkan ajaran
Rasulullah SAW (Islam) melarangnya.
Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam yang adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan alam akhirat, karena mereka merasa ngeri dengan siksa kubur dan azab neraka.
Kaum kafir Quraisy menilak ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidupa bermasyarakat warisan leluhur mereka.
Dan, kaum kafir Quraisy menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah SAW karena Islam melarang menyembah berhala.
Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam yang adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan alam akhirat, karena mereka merasa ngeri dengan siksa kubur dan azab neraka.
Kaum kafir Quraisy menilak ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidupa bermasyarakat warisan leluhur mereka.
Dan, kaum kafir Quraisy menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah SAW karena Islam melarang menyembah berhala.
Usaha-usaha kaum kafir Quraisy untuk
menolak dan menghentikan dakwah Rasulullah SAW bermacam-macam antara lain:
۞ Para budak yang telah masuk Islam,
seperti: Bilal, Amr bin Fuhairah, Ummu Ubais an-Nahdiyah, dan anaknya
al-Muammil dan Az-Zanirah, disiksa oleh para pemiliknya (kaum kafir Quraisy) di
luar batas perikemanusiaan.
۞ Kaum kafir Quraisy mengusulkan pada
Nabi Muhammad SAW agar permusuhan di antara mereka dihentikan. Caranya suatu
saat kaum kafir Quraisy menganut Islam dan melaksanakan ajarannya. Di saat lain
umat Islam menganut agama kamu kafir Quraisy dan melakukan penyembahan terhadap
berhala.
Dalam menghadapi tantangan dari kaum
kafir Quraisy, salah satunya Nabi Muhammad SAW menyuruh 16 orang sahabatnya,
termasuk ke dalamnya Utsman bin Affan dan 4 orang wanita untuk berhijrah ke
Habasyah (Ethiopia), karena Raja Negus di negeri itu memberikan jaminan
keamanan. Peristiwa hijrah yang pertama ke Habasyah terjadi pada tahun 615 M.
Suatu saat keenam belas orang tersebut
kembali ke Mekah, karena menduga keadaan di Mekah sudah normal dengan masuk
Islamnya salah satu kaum kafir Quraisy, yaitu Umar bin Khattab. Namun, dugaan
mereka meleset, karena ternyata Abu Jahal labih kejam lagi.
Akhirnya, Rasulullah SAW menyuruh
sahabatnya kembali ke Habasyah yang kedua kalinya. Saat itu, dipimpin oleh
Ja’far bin Abu Thalib.
Pada tahun ke-10 dari
kenabian (619 M) Abu Thalib, paman Rasulullah SAW dan pelindungnya wafat. Empat
hari setelah itu istri Nabi Muhammad SAW juga telah wafat. Dalam sejarah Islam
tahun wafatnya Abu Thalib dan Khadijah disebut ‘amul huzni (tahun duka cita).
NABI MUHAMMAD DIANGKAT MENJADI RASUL
Pada saat Nabi Muhammad SAW hampir
berusia 40 th kesukaannya mengasingkan diri dengan berbekal Roti dan pergi ke
Gua Hira di Jabal Nur. Rasulullah di Gua Hira beribadah dan memikirkan
keagungan alam. Pada usia genap 40 th Nabi dianggkat menjadi Rasul. Beliau
menerima wahyu yang pertama di gua Hira dengan perantaraan Malaikat jibril
yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5.
Ketika Nabi berada di gua Hira datang malaikat Jibril dan memeluk Nabi sambil berkata "Bacalah". Jawab Nabi "Aku tidak dapat membaca" Lantas Malaikat memegangi dan merangkul Nabi hingga sesak kemudian melepaskannya dan berkata lagi "Bacalah". Jawab Nabi"Aku tidak bisa membaca". Lantas Malaikat memegangi dan merangkulnya lagi sampai ketiga kalinya sampai Nabi merasa sesak kemudian melepasknnya. Lalu Nabi bersedia mengikutinya (Surat Al-Alaq ayat 1-5). QS 96 : 1-5)
Rasulullah mengulang bacaan ini dengan hati yang bergetar lalu pulang dan menemui Khadijah (isterinya) untuk minta diselimutinya. Beliau diselimuti hingga tidak lagi menggigil tapi khawatir akan keadaan dirinya.
Khadijah menemui Waraqah bin Naufal dan menceritakan kejadian yang dialami oleh Nabi. Waraqah menanggapi "Maha suci, Maha suci, Dia benar-benar nabi umat ini, katakanlah kepadanya, agar dia
berteguh hati.
PERISTIWA ISRA' MIRAJ
NABI MUHAMMAD SAW
·
PENGERTIAN ISRAJ MIRAJ
Isra merupakan kisah
perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di
Yerussalem. Sedangkan Miraj merupakan kisah perjalanan Nabi dari bumi naik ke
langit ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (akhir penggapaian) untuk
menerima perintah Allah SWT menjalankan salat lima waktu dalam sehari semalam.
Dalam beberapa hadits yang di riwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, suatu hari, ketika Nabi Muhammad SAW bersama sahabat tengah menunaikan salat di Masjid di Madinah, turunlah QS. Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan Umat Islam agar memalingkan wajah (berkiblat) ke Masjid Al-Haram.
"Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Al-Haram dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjid Al-Haram itu adalah benar dari tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."
Kendati demikian, dengan adanya perubahan kiblat ini, Islam tidak lantas 'meminggirkan' kedudukan Masjdi Al-Aqsha. Al-Quran telah menempatkan Masjid Al-Aqsha dalam kemuliaan. Terlebih saat peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.
"Maha suci Allah, yang telah memberi jalan hambanya pada suatu malam dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah maha mendengar lagi maha melihat." (QS. Al-Isra: 1).
Dalam beberapa hadits yang di riwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, suatu hari, ketika Nabi Muhammad SAW bersama sahabat tengah menunaikan salat di Masjid di Madinah, turunlah QS. Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan Umat Islam agar memalingkan wajah (berkiblat) ke Masjid Al-Haram.
"Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Al-Haram dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjid Al-Haram itu adalah benar dari tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."
Kendati demikian, dengan adanya perubahan kiblat ini, Islam tidak lantas 'meminggirkan' kedudukan Masjdi Al-Aqsha. Al-Quran telah menempatkan Masjid Al-Aqsha dalam kemuliaan. Terlebih saat peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.
"Maha suci Allah, yang telah memberi jalan hambanya pada suatu malam dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah maha mendengar lagi maha melihat." (QS. Al-Isra: 1).
·
PERJALANAN ISRAJ MIRAJ
Dalam perjalanan bertemu
Sang Pencipta, selain ditemani malaikat Jibril, Rasullulah mengendarai Buraaq,
yakni hewan putih panjang, berbadan besar melebihi keledai dan bersayap.
Dikisahkan Buraaq, sekali melangkah bisa menempuh perjalanan sejauh mata
memandang dalam sekejap untuk melewati 7 langit dan bertemu dengan para
penghuni di setiap tingkatan.
Dalam hadits tersebut dikisahkan, di langit tingkat pertama, Rasullulah SAW bertemu dengan manusia sekaligus wali Allah SWT pertama di muka bumi, Nabi Adam AS.
Saat bertemu nabi Adam, Rasullulah sempat bertegur sapa sebelum akhirnya meninggalkan dan melanjutkan perjalanannya. Nabi Adam membalasnya dengan membekali Rasulullah lewat doa agar selalu diberi kebaikan pada setiap urusan yang dihadapinya.
Kemudian di langit kedua, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Seperti halnya di langit pertama, Rasullulah disapa dengan ramah oleh kedua nabi pendahulunya.
Sewaktu akan meninggalkan langit kedua, Nabi Isa dan Yahya juga mendoakan kebaikan kepada rasullulah. Kemudian rasullulah bersama Malaikat Jibril terbang lagi menuju langit ketiga.
Lalu di langit ketiga, Rasullulah bertemu dengan Nabi Yusuf, manusia tertampan yang pernah diciptakan Allah SWT di bumi. Dalam pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan sebagian dari ketampanan wajahnya kepada Nabi Muhammad. Dan juga di akhir pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan doa kebaikan kepada nabi terakhir itu.
Setelah berpisah dengan Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan dan sampailah dia ke langit keempat. Pada tingkatan ini, Rasullulah bertemu Nabi Idris. Yaitu manusia pertama yang mengenal tulisan, dan nabi yang berdakwah kepada bani Qabil dan Memphis di Mesir untuk beriman kepada Allah SWT.
Seperti pertemuan dengan nabi-nabi sebelumnya, Nabi Idris memberikan doa kepada Nabi Muhammad supaya diberi kebaikan pada setiap urusan yang dilakukannya.
Selanjutnya di langit kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun. Yaitu nabi yang mendampingi saudaranya, Nabi Musa berdakwah mengajak Raja Firaun yang menyebut dirinya tuhan dan kaum Bani Israil untuk beriman kepada Allah SWT.
Dalam hadits tersebut dikisahkan, di langit tingkat pertama, Rasullulah SAW bertemu dengan manusia sekaligus wali Allah SWT pertama di muka bumi, Nabi Adam AS.
Saat bertemu nabi Adam, Rasullulah sempat bertegur sapa sebelum akhirnya meninggalkan dan melanjutkan perjalanannya. Nabi Adam membalasnya dengan membekali Rasulullah lewat doa agar selalu diberi kebaikan pada setiap urusan yang dihadapinya.
Kemudian di langit kedua, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Seperti halnya di langit pertama, Rasullulah disapa dengan ramah oleh kedua nabi pendahulunya.
Sewaktu akan meninggalkan langit kedua, Nabi Isa dan Yahya juga mendoakan kebaikan kepada rasullulah. Kemudian rasullulah bersama Malaikat Jibril terbang lagi menuju langit ketiga.
Lalu di langit ketiga, Rasullulah bertemu dengan Nabi Yusuf, manusia tertampan yang pernah diciptakan Allah SWT di bumi. Dalam pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan sebagian dari ketampanan wajahnya kepada Nabi Muhammad. Dan juga di akhir pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan doa kebaikan kepada nabi terakhir itu.
Setelah berpisah dengan Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan dan sampailah dia ke langit keempat. Pada tingkatan ini, Rasullulah bertemu Nabi Idris. Yaitu manusia pertama yang mengenal tulisan, dan nabi yang berdakwah kepada bani Qabil dan Memphis di Mesir untuk beriman kepada Allah SWT.
Seperti pertemuan dengan nabi-nabi sebelumnya, Nabi Idris memberikan doa kepada Nabi Muhammad supaya diberi kebaikan pada setiap urusan yang dilakukannya.
Selanjutnya di langit kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun. Yaitu nabi yang mendampingi saudaranya, Nabi Musa berdakwah mengajak Raja Firaun yang menyebut dirinya tuhan dan kaum Bani Israil untuk beriman kepada Allah SWT.
Harun terkenal sebagai nabi yang memiliki kepandaian berbicara dan meyakinkan orang. Di langit kelima, Nabi Harun mendoakan Nabi Muhammad senantiasa selalu mendapat kebaikan pada setiap perbuatannya.
Pada langit keenam, Nabi
Muhammad dan Malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Musa. Yaitu nabi yang memiliki
jasa besar dalam membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan menuntunnya menuju
kebenaran Illahi.
Selama bertemu dengan Muhammad, Nabi Musa menyambut layaknya kedua sahabat lama yang tidak pernah bertemu. Sebelum Nabi Muhammad pamit meninggalkan langit keenam, Nabi Musa melepasnya dengan doa kebaikan.
Perjalanan terakhir, Nabi Muhammad ke langit ketujuh bertemu dengan sahabat Allah SWT, bapaknya para nabi, Ibrahim AS. Sewaktu bertemu, Nabi Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Mamuur, yaitu suatu tempat yang disediakan Allah SWT kepada para malaikatnya. Setiap harinya, tidak kurang dari 70 ribu malaikat masuk ke dalam.
Kemudian Nabi Ibrahim mengajak Muhammad untuk pergi ke Sidratul Muntaha sebelum bertemu dengan Allah SWT untuk menerima perintah wajib salat. Sidratul Muntaha merupakan sebuah pohon yang menandai akhir dari batas langit ke tujuh.
Masih dalam hadits yang sama, rasullulah SAW menceritakan bentuk fisik dari Sidratul Muntaha, yaitu berdaun lebar seperti telinga gajah dan buahnya yang menyerupai tempayan besar. Namun ciri fisik Sidratul Muntaha berubah ketika Allah SWT datang. Bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak bisa berkata-kata menggambarkan keindahan pohon Sidratul Muntaha.
Pada kepecayaan agama lain, Sidratul Muntaha juga diartikan sebagai pohon kehidupan. Di Sidratul Muntaha inilah Nabi Muhammad berdialog dengan Allah SWT, untuk menerima perintah wajib salat lima waktu dalam sehari.
Selama bertemu dengan Muhammad, Nabi Musa menyambut layaknya kedua sahabat lama yang tidak pernah bertemu. Sebelum Nabi Muhammad pamit meninggalkan langit keenam, Nabi Musa melepasnya dengan doa kebaikan.
Perjalanan terakhir, Nabi Muhammad ke langit ketujuh bertemu dengan sahabat Allah SWT, bapaknya para nabi, Ibrahim AS. Sewaktu bertemu, Nabi Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Mamuur, yaitu suatu tempat yang disediakan Allah SWT kepada para malaikatnya. Setiap harinya, tidak kurang dari 70 ribu malaikat masuk ke dalam.
Kemudian Nabi Ibrahim mengajak Muhammad untuk pergi ke Sidratul Muntaha sebelum bertemu dengan Allah SWT untuk menerima perintah wajib salat. Sidratul Muntaha merupakan sebuah pohon yang menandai akhir dari batas langit ke tujuh.
Masih dalam hadits yang sama, rasullulah SAW menceritakan bentuk fisik dari Sidratul Muntaha, yaitu berdaun lebar seperti telinga gajah dan buahnya yang menyerupai tempayan besar. Namun ciri fisik Sidratul Muntaha berubah ketika Allah SWT datang. Bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak bisa berkata-kata menggambarkan keindahan pohon Sidratul Muntaha.
Pada kepecayaan agama lain, Sidratul Muntaha juga diartikan sebagai pohon kehidupan. Di Sidratul Muntaha inilah Nabi Muhammad berdialog dengan Allah SWT, untuk menerima perintah wajib salat lima waktu dalam sehari.
MUKJIZAT NABI MUHAMMAD
SAW
· SEBELUM MASA KENABIAN
* Aminah binti Wahab, ibu Muhammad SAW
pada saat mengandung Muhammad SAW tidak pernah merasa lelah seperti wanita pada
umumnya.
* Saat melahirkan Muhammad SAW, Aminah
binti Wahab tidak merasa sakit seperti wanita sewajarnya.
* Muhammad SAW dilahirkan dalam keadaan
sudah berkhitan.
* Pada usia 5 bulan ia sudah pandai
berjalan, usia 9 bulan ia sudah mampu berbicara dan pada usia 2 tahun ia sudah
bisa dilepas bersama anak-anak Halimah yang lain untuk menggembala kambing.
* Halimah binti Abi-Dhua’ib, ibu susuan
Muhammad SAW dapat menyusui kembali setelah sebelumnya ia dinyatakan telah
kering susunya. Halimah dan suaminya pada awalnya menolak Muhammad SAW karena
yatim. Namun, karena alasan ia tidak ingin dicemooh Bani Sa’d, ia menerima
Muhammad SAW. Selama dengan Halimah, Muhammad SAW hidup nomaden bersama Bani
Sa’d di gurun Arab selama empat tahun.
* Abdul Muthalib, kakek Muhammad SAW menuturkan
bahwa berhala yang ada di Ka’bah tiba-tiba terjatuh dalam keadaan bersujud saat
kelahiran Muhammad SAW. Ia juga menuturkan bahwa ia mendengar dinding Ka’bah
berbicara, “Nabi yang dipilih telah lahir, yang akan menghancurkan orang-orang
kafir, dan membersihkan dariku dari beberapa patung berhala ini, kemudian
memerintahkan untuknya kepada Zat Yang Merajai Seluruh Alam Ini.”
* Dikisahkan saat Muhammad SAW berusia
empat tahun, ia pernah dibedah perutnya oleh dua orang berbaju putih yang
terakhir diketahui sebagai malaikat. Peristiwa itu terjadi di ketika Muhammad
SAW sedang bermain dengan anak-anak Bani Sa’d dari suku Badui. Setelah kejadian
itu, Muhammad SAW dikembalikan oleh Halimah kepada Aminah. Sirah Nabawiyyah,
memberikan gambaran terperinci bahwa kedua orang itu, “membelah dadanya,
mengambil jantungnya, dan membukanya untuk mengelurkan darah kotor darinya.
Lalu mereka mencuci jantung dan dadanya dengan salju.” Peristiwa seperti itu
juga terulang 50 tahun kemudian saat Muhammad SAW diisra’kan ke Yerusalem lalu
ke Sidratul Muntaha dari Mekkah.
* Dikisahkan pula pada masa kecil Muhammad
SAW, ia telah dibimbing oleh Allah. Hal itu mulai tampak setelah ibu dan
kakeknya meninggal. Dikisahkan bahwa Muhammad SAW pernah diajak untuk
menghadiri pesta dalam tradisi Jahiliyah, namun dalam perjalanan ke pesta ia
merasa lelah dan tidur di jalan sehingga ia tidak mengikuti pesta tersebut.
* Pendeta Bahira menuturkan bahwa ia
melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad SAW. Muhammad SAW saat itu
berusia 12 tahun sedang beristirahat di wilayah Bushra dari perjalannya untuk
berdagang bersama Abu Thalib ke Syiria. Pendeta Bahira menceritakan bahwa
kedatangan Muhammad SAW saat itu diiringi dengan gumpalan awan yang menutupinya
dari cahaya matahari. Ia juga sempat berdialog dengan Muhammad SAW dan
menyaksikan adanya sebuah “stempel kenabian” (tanda kenabian) di kulit
punggungnya.
* Mukjizat lain adalah Muhammad SAW pernah
memperpendek perjalanan. Kisah ini terjadi saat pulang dari Syiria. Muhammad
SAW diperintahkan Maisarah membawakan suratnya kepada Khadijah saat perjalanan
masih 7 hari dari Mekkah. Namun, Muhammad SAW sudah sampai di rumah Khadijah
tidak sampai satu hari. Dalam kitab as-Sab’iyyatun fi Mawadhil Bariyyat, Allah
memerintahkan pada malaikat Jibril, Mikail, dan mendung untuk membantu Muhammad
SAW. Jibril diperintahkan untuk melipat tanah yang dilalui unta Muhammad SAW
dan menjaga sisi kanannya sedangkan Mikail diperintahkan menjaga di sisi
kirinya dan mendung diperintahkan menaungi Muhammad SAW.
· PADA MASA KENABIAN
Kharisma
* Tatapan mata yang menggetarkan Ghaurats
bin Harits, yaitu seorang musuh yang sedang menghunus pedang kearah leher
Muhammad SAW.
* Menjadikan tangan Abu Jahal kaku.
* Jin yang bernama Muhayr bin Habbar membantu dakwah Muhammad SAW, kemudian jin itu diganti namanya menjadi Abdullah bin Abhar.
* Menjadikan tangan Abu Jahal kaku.
* Jin yang bernama Muhayr bin Habbar membantu dakwah Muhammad SAW, kemudian jin itu diganti namanya menjadi Abdullah bin Abhar.
Menghilang dan menidurkan musuh
* Menghilang saat akan dibunuh oleh utusan
Amr bin at-Thufail dan Ibad bin Qays utusan dari Bani Amr pada tahun 9 Hijriah
atau Tahun Utusan
* Menghilang saat akan dilempari batu oleh Ummu Jamil, bibi Muhammad SAW ketika ia duduk di sekitar Ka’bah dengan Abu Bakar.[17]
* Menghilang saat akan dibunuh Abu Jahal dimana saat itu ia sedang shalat.
* Menidurkan 10 pemuda Mekkah yang berencana membunuhnya dengan taburan pasir.
* Menghilang saat akan dilempari batu oleh Ummu Jamil, bibi Muhammad SAW ketika ia duduk di sekitar Ka’bah dengan Abu Bakar.[17]
* Menghilang saat akan dibunuh Abu Jahal dimana saat itu ia sedang shalat.
* Menidurkan 10 pemuda Mekkah yang berencana membunuhnya dengan taburan pasir.
Binatang, tumbuhan, alam dan benda mati
* Seekor srigala berbicara kepada Muhammad
SAW .
* Berbicara dengan unta yang lari dari pemiliknya yang menyebabkan masyarakatnya meninggalkan shalat Isya’.
* Berbicara dengan unta pembawa hadiah raja Habib bin Malik untuk membuktikan bahwa hadiah tersebut bukan untuk Abu Jahal melainkan untuk Muhammad SAW.
* Mengusap kantung susu seekor kambing untuk mengeluarkan susunya yang telah habis.
* Dua Sahabat Nabi SAW dibimbing oleh cahaya.
* Mimbar menangis setelah mendengar bacaan ayat-ayat Allah.
* Pohon kurma dapat berbuah dengan seketika.
* Batang pohon kurma meratap kepada Muhammad SAW .
* Pohon menjadi saksi dan dibuat berbicara kepada Muhammad SAW.
* Berhala-berhala runtuh dengan hanya ditunjuk oleh Muhammad SAW.
* Mendatangkan hujan dan meredakan banjir saat musim kemarau tahun 6 Hijriah di Madinah yang saat itu mengalami kekeringan.
* Berbicara dengan gunung untuk mengelurkan air bagi Uqa’il bin Abi Thalib yang kehausan.
* Berbicara dengan gilingan tepung Fatimah yang takut dijadikan batu-batu neraka.
* Merubah emas hadiah raja Habib bin Malik menjadi pasir di gunung Abi Qubaisy.
* Memerintahkan gilingan tepung untuk berputar dengan sendirinya.
* Tubuh Muhammad SAW memancarkan petir ketika hendak di bunuh oleh Syaibah bin ‘Utsman pda Perang Hunain.
Makanan dan minuman
* Berbicara dengan unta yang lari dari pemiliknya yang menyebabkan masyarakatnya meninggalkan shalat Isya’.
* Berbicara dengan unta pembawa hadiah raja Habib bin Malik untuk membuktikan bahwa hadiah tersebut bukan untuk Abu Jahal melainkan untuk Muhammad SAW.
* Mengusap kantung susu seekor kambing untuk mengeluarkan susunya yang telah habis.
* Dua Sahabat Nabi SAW dibimbing oleh cahaya.
* Mimbar menangis setelah mendengar bacaan ayat-ayat Allah.
* Pohon kurma dapat berbuah dengan seketika.
* Batang pohon kurma meratap kepada Muhammad SAW .
* Pohon menjadi saksi dan dibuat berbicara kepada Muhammad SAW.
* Berhala-berhala runtuh dengan hanya ditunjuk oleh Muhammad SAW.
* Mendatangkan hujan dan meredakan banjir saat musim kemarau tahun 6 Hijriah di Madinah yang saat itu mengalami kekeringan.
* Berbicara dengan gunung untuk mengelurkan air bagi Uqa’il bin Abi Thalib yang kehausan.
* Berbicara dengan gilingan tepung Fatimah yang takut dijadikan batu-batu neraka.
* Merubah emas hadiah raja Habib bin Malik menjadi pasir di gunung Abi Qubaisy.
* Memerintahkan gilingan tepung untuk berputar dengan sendirinya.
* Tubuh Muhammad SAW memancarkan petir ketika hendak di bunuh oleh Syaibah bin ‘Utsman pda Perang Hunain.
Makanan dan minuman
* Makanan yang di makan oleh Muhammad SAW
mengagungkan Nama Allah.
* Makanan sedikit yang bisa dimakan sebanyak 800 orang pada Perang Khandaq.
* Roti sedikit cukup untuk orang banyak.
* Sepotong hati kambing cukup untuk 130 orang.
* Makanan yang dimakan tidak berkurang justru bertambah tiga kali lipat.
* Menjadikan beras merah sebanyak setengah kwintal yang diberikan kepada orang Badui Arab tetap utuh tidak berkurang selama berhari-hari.
* Menjadikan minyak samin Ummu Malik tetap utuh tidak berkurang walau telah diberikan kepada Muhammad SAW.
* Air memancar dari sela-sela jari. Kemudian air itu untuk berwudhu 300 orang sahabat hanya dengan semangkuk air.
* Susu dan kencing unta bisa menyembuhkan penyakit atas izin Allah.
* Makanan sedikit yang bisa dimakan sebanyak 800 orang pada Perang Khandaq.
* Roti sedikit cukup untuk orang banyak.
* Sepotong hati kambing cukup untuk 130 orang.
* Makanan yang dimakan tidak berkurang justru bertambah tiga kali lipat.
* Menjadikan beras merah sebanyak setengah kwintal yang diberikan kepada orang Badui Arab tetap utuh tidak berkurang selama berhari-hari.
* Menjadikan minyak samin Ummu Malik tetap utuh tidak berkurang walau telah diberikan kepada Muhammad SAW.
* Air memancar dari sela-sela jari. Kemudian air itu untuk berwudhu 300 orang sahabat hanya dengan semangkuk air.
* Susu dan kencing unta bisa menyembuhkan penyakit atas izin Allah.
Mendo’akan dan menyembuhkan
* Menyembuhkan betis Ibnu al-Hakam yang
terputus pada Perang Badar, kemudian Muhammad SAW meniupnya, lalu sembuh
seketika tanpa meresakan sakit sedikit pun.
* Mata Qatadah terluka pada Perang Uhud, sehingga jatuh dari kelopaknya, kemudian oleh Muhammad SAW mata tersebut dimasukkan kembali dan menjadi lebih indah dari sebelumnya.
* Mendo’akan untuk menumbuhkan gigi salah seorang sahabatnya bernama Sabiqah yang rontok sewaktu perang.
* Mendo’akan Anas bin Malik dengan banyak harta dan anak.
* Menyembuhkan daya ingat Abu Hurairah yang pelupa.
* Menyembuhkan penyakit mata Ali bin Abi Thalib saat pemilihan pembawa bendera pemimpin dalam perang Khaibar.
* Menyembuhkan luka gigitan ular yang diderita Abu Bakar dengan ludahnya saat bersembunyi di Gua Tsur dari pengejaran penduduk Mekah.
* Menyembuhkan tangan wanita yang lumpuh dengan tongkatnya.
* Menyambung tangan orang Badui yang tangannya putus setelah dipotong oleh dirinya sendiri setelah menampar Muhammad SAW.
* Mendoakan supaya Kerajaan Kisra hancur, kemudian do’a tersebut dikabulkan.
* Mendoakan Ibnu Abbas menjadi orang yang faqih dalam agama Islam.
* Mata Qatadah terluka pada Perang Uhud, sehingga jatuh dari kelopaknya, kemudian oleh Muhammad SAW mata tersebut dimasukkan kembali dan menjadi lebih indah dari sebelumnya.
* Mendo’akan untuk menumbuhkan gigi salah seorang sahabatnya bernama Sabiqah yang rontok sewaktu perang.
* Mendo’akan Anas bin Malik dengan banyak harta dan anak.
* Menyembuhkan daya ingat Abu Hurairah yang pelupa.
* Menyembuhkan penyakit mata Ali bin Abi Thalib saat pemilihan pembawa bendera pemimpin dalam perang Khaibar.
* Menyembuhkan luka gigitan ular yang diderita Abu Bakar dengan ludahnya saat bersembunyi di Gua Tsur dari pengejaran penduduk Mekah.
* Menyembuhkan tangan wanita yang lumpuh dengan tongkatnya.
* Menyambung tangan orang Badui yang tangannya putus setelah dipotong oleh dirinya sendiri setelah menampar Muhammad SAW.
* Mendoakan supaya Kerajaan Kisra hancur, kemudian do’a tersebut dikabulkan.
* Mendoakan Ibnu Abbas menjadi orang yang faqih dalam agama Islam.
Hal ghaib dan ru’yah
* Mengetahui siksa kubur dua orang dalam
makam yang dilewatinya karena dua orang tersebut selalu shalat dalam keadaan
kotor karena kencingnya selalu mengenai pakaian shalat.
* Mengetahui ada seorang Yahudi yang sedang disiksa dalam kuburnya.
* Meramalkan seorang istrinya ada yang akan menunggangi unta merah, dan disekitarnya ada banyak anjing yang menggonggong dan orang tewas. Hal itu terbukti pada Aisyah pada saat Perang Jamal di wilayah Hawwab yang mengalami kejadian yang diramalkan Muhammad SAW.
* Meramalkan istrinya yang paling rajin bersedekah akan meninggal tidak lama setelahnya dan terbukti dengan meninggalnya Zainab yang dikenal rajin bersedekah tidak lama setelah kematian Muhammad SAW.
* Meramalkan Abdullah bin Abbas akan menjadi “bapak para khalifah” yang terbukti pada keturunah Abdullah bin Abbas yang menjadi raja-raja kekhalifahan Abbasiyah selama 500 tahun.
* Meramalkan umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan.
* Mengetahui ada seorang Yahudi yang sedang disiksa dalam kuburnya.
* Meramalkan seorang istrinya ada yang akan menunggangi unta merah, dan disekitarnya ada banyak anjing yang menggonggong dan orang tewas. Hal itu terbukti pada Aisyah pada saat Perang Jamal di wilayah Hawwab yang mengalami kejadian yang diramalkan Muhammad SAW.
* Meramalkan istrinya yang paling rajin bersedekah akan meninggal tidak lama setelahnya dan terbukti dengan meninggalnya Zainab yang dikenal rajin bersedekah tidak lama setelah kematian Muhammad SAW.
* Meramalkan Abdullah bin Abbas akan menjadi “bapak para khalifah” yang terbukti pada keturunah Abdullah bin Abbas yang menjadi raja-raja kekhalifahan Abbasiyah selama 500 tahun.
* Meramalkan umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan.
· MUKJIZAT TERBESAR
* Membelah bulan dua kali untuk
membuktikan kenabiannya pada penduduk Mekkah.
* Isra ke Masjidil Aqsa dari Masjidil Haram lalu Mi’raj ke Sidratul Muntaha dari Baitul Maqdis tidak sampai satu malam pada tanggal 27 Rajab tahun 11 Hijriah.
* Menerima Al-Qur’an sebagai Firman Tuhan terakhir padahal ia seorang yang buta huruf.
* Isra ke Masjidil Aqsa dari Masjidil Haram lalu Mi’raj ke Sidratul Muntaha dari Baitul Maqdis tidak sampai satu malam pada tanggal 27 Rajab tahun 11 Hijriah.
* Menerima Al-Qur’an sebagai Firman Tuhan terakhir padahal ia seorang yang buta huruf.
NABI MUHAMMAD SAW MENERIMA WAHYU PERTAMA
Kejadian yang dialami
Nabi Muhammad SAW dalam menerima wahyu pertamanya sama sekali tidak pernah
terpikir oleh Muhammad yang lahir pada tahun 570 di Mekah. Ayahnya yang
meninggal 6 bulan sebelum Muhammad lahir menyebabkan Muhammad lahir sebagai
seorang yatim dan akhirnya dikirim untuk tinggal bersama Halimah binti Abi
Dhuayb dan suaminya hingga Muhammad menginjak umur 2 tahun. Ketika berumur 6
tahun, Muhammad kehilangan ibunya, dan menjadi yatim piatu, dimana akhirnya
Muhammad tinggal bersama pamannya yang berasal dari Bani Hashim, yaitu Abdul
Muttalib. Dua tahun setelah tinggal bersama kakeknya, kakeknya pun meninggal
dan membuat Muhammad dirawat oleh Abu Talib yang menjadi penerus Bani Hashim.
Ketika menginjak remaja,
Nabi Muhammad sering menemani pamannya dalam perjalanan ke Syria demi melakukan
perdagangan dan mendapatkan pengalaman dalam perdagangan komersil, satu-satunya
gerbang karir yang terbuka untuk Muhammad sebagai yatim piatu. Sejarah
menyebutkan bahwa ketika Muhammad berumur sekitar 9 hingga 12 tahun, beliau
bertemu dengan seorang pendeta Kristen bernama Bahira yang telah meramalkan
masa depan Muhammad sebagai nabi utusan dari Tuhan.
Sayangnya, tidak banyak
yang diketahui tentang masa muda Muhammad selepas remaja. Yang pasti, pada masa
tersebut Nabi Muhammad belum lah menerima wahyu pertamanya. Informasi yang
terdapat tentang Muhammad selepas remaja juga sulit dipisahkan antara sejarah
dan legenda. Yang diketahui pasti adalah akhirnya ia menjadi saudagar dan
terlibat dalam perdagangan antara samudra India dan Laut Tengah. Karena
karakternya yang jujur, Muhammad kemudian menerima julukan al-Amin yang
diartikan sebagai “dapat dipercaya”. Julukan lain yang diterima Muhammad pada
masa mudanya adalah al-Sadiq, berarti “yang benar” dan selalu dicari sebagai
pihak penengah yang tak pernah berpihak. Reputasi yang bergulir di sekitar
Muhammad pada masa itu menarik seorang janda berumur 40 tahun bernama Khadijah
yang kemudian melamar Muhammad. Lamaran itu diterima dan pernikahan mereka
merupakan sebuah pernikahan yang bahagia.
Beberapa tahun berlalu,
dan menurut sebuah narasi yang Kumpulan Sejarah dapatkan dari seorang sejarawan
bernama Ibnu Ishaq, Muhammad terlibat dalam sebuah cerita yang terkenal,
tentang penempatan sebuah batu hitam di salah satu bagian dinding Ka’bah pada
tahun 605. Batu hitam yang merupakan benda suci ini telah dilepas untuk
memfasilitasi renovasi Ka’bah. Pemimpin Mekah pada masa itu tidak bisa
memutuskan klan mana yang boleh mendapatkan kehormatan meletakkan batu hitam
tadi kembali ketempatnya, dimana mereka akhirnya menyetujui usulan untuk
bertanya pada siapapun yang pertama melewati gerbang ka’bah dan orang itu
adalah Muhammad yang berumur 35 tahun, 5 tahun sebelum penobatannya sebagai
Rasul. Muhammad kemudian meminta selembar kain, meletakkan batu hitam di
pusatnya, dan meminta para pemimpin klan untuk bersama-sama memegang tepian
kain tadi dan membawanya hingga tempat yang tepat agar Muhammad bisa meletakkan
batu tersebut. Hal ini menyebabkan seluruh ketua klan merasa mendapatkan
kehormatan yang sama.
Sebelum menerima wahyu,
proses perjalanan spiritual Muhammad SAW sangat panjang dan berliku. Hari-hari
menjelang turunnya wahyu itu, beliau sangat gemar dan menikmati kesendirian di
sebuah tempat yang sunyi dan jauh dari masyarakat, yakni gua Hira.
Di gua Hira itu Muhammad
SAW beribadah sebagaimana yang diwariskan Nabi Ibrahim AS, meski sumber lain
menyebutkan ibadahnya beliau mengikuti ilham dari Allah SWT. Ketika itu tidak
ada satu mimpi pun yang beliau alami, melainkan mimpi itu datang seperti cahaya
pagi.
Tatkala beliau genap
berusia 40 tahun, datangnya Jibril kepadanya dengan membawa risalah kenabian.
Itu terjadi pada Senin, 17 Ramadhan tahun ke-41 sejak kelahiran beliau,
bertepatan dengan 6 Agustus 610 Masehi.
Dalam Shahih Bukhari,
diriwayatkan dari ‘Aisyah RA bahwa dia berkata, “Wahyu yang pertama-tama mulai
diturunkan kepada Rasulullah SAW berupa mimpi yang benar pada waktu tidur.
(Pada waktu itu) tidak ada satu mimpi pun yang beliau alami, melainkan mimpi
itu datang seperti cahaya pagi. Selanjutnya, beliau suka berkhalwat
(menyendiri). Beliau berkhalwat di gua Hira. Di sana beliau ber-tahannuts
(yakni beribadah) selama beberapa malam selagi belum rindu kepada keluarga dan
perlu mengambil bekal untuk berkhalwat, barulah kemudian beliau pulang menemui
Khadijah, lalu mengambil bekal untuk hal yang sama, hingga akhirnya datanglah
kepadanya kebenaran (wahyu) pada saat beliau berada di gua Hira.
Malaikat datang,
lalu berkata kepadanya: ‘Bacalah!’
Beliau menjawab: ‘Aku tidak bisa membaca.’
Sabda beliau
(menceritakan pengalamannya saat itu): ‘Lalu Jibril menarikku dan mendekapku
sampai aku amat kepayahan. Sesudah itu, Jibril melepasku dan berkata: ‘Bacalah!’
Aku menjawab: ‘Aku tidak bisa membaca’.
Jibril menarikku lagi
dan mendekapku untuk kedua kalinya sampai aku sangat kepayahan, kemudian dia
melepasku lagi, lalu berkata: ‘Bacalah!’
Aku menjawab: ‘Aku tidak bisa membaca.’ Maka dia pun menarikku lagi dan mendekapku untuk
ketiga kalinya, kemudian dia melepasku lagi, lalu dia katakan: ‘Bacalah dengan
(menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. (QS. Al-‘Alaq: 1-3).
Rasulullah SAW pun
pulang membawa ayat-ayat itu. Hatinya gemetar. Beliau menemui Khadijah binti
Khuwailid RA, lalu berkata: ‘Selimuti aku!
Selimuti aku!’
Khadijah pun menyelimuti
beliau sampai hilang ketakutannya, barulah kemudian beliau berkata kepada
Khadijah dan menceritakan apa yang dialaminya.
‘Aku benar-benar
mengkhawatirkan diriku,’ demikian kata beliau kepada isterinya itu.
Maka Khadijah pun berkata: ‘Tidak, Allah tidak akan menghinakan engkau buat selama-lamanya.
Sesungguhnya engkau benar-benar senang menyambung silaturrahim, menanggung
beban orang lain, memberi sesuatu kepada orang miskin, menjamu para tamu, dan
memberi bantuan kala terjadi musibah-musibah yang benar-benar gawat.’
Lalu Khadijah pergi
membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, sepupu
Khadijah. Dia adalah seorang penganut agama Nasrani pada masa jahiliyah. Dia
pandai menulis tulisan Ibrani. Ada sebagian dari Injil yang ditulisnya dalam
bahasa Ibrani, entah seberapa banyaknya, Allah lebih tahu. Waktu itu dia sudah
tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya: ‘Wahai
sepupuku, dengarlah penuturan dari kemenakanmu ini!’
‘Kemenakanmu, apa yang
kamu alami?’ tanya Waraqah; dan Rasulullah SAW
pun menceritakan kejadian yang baru beliau alami.
Maka Waraqah berkata kepada beliau: ‘Inilah Namus, yang pernah
Allah turunkan kepada Musa. Andaikan aku masih muda saat mengalami itu.
Andaikan aku masih hidup saat kamu diusir oleh kaummu.’
Mendengar itu, Rasulullah SAW bertanya: ‘Benarkah mereka akan mengusirku?’
‘Ya,’ tegas Waraqah,
‘tidak seorang pun yang membawa seperti yang kamu bawa, kecuali dimusuhi.
Andaikan aku masih sempat mengalami harimu, aku pasti akan menolongmu dengan
sungguh-sungguh.’
Namu tak lama kemudian
Waraqah pun meninggal dunia; dan wahyu itu sendiri kemudian tertunda.”
Ayat Al-Quran yang
pertama-tama turun kepada Rasulullah SAW adalah “Iqra”, sebagaimana yang
diriwayatkan secara shahih dari ‘Aisyah RA tersebut; dan itu diriwayatkan pula
dari Abu Musa Al-Asy’ari dan Ubaid bin Umair.
Kata An-Nawawi: “Inilah
yang benar dan dipegang oleh mayoritas ulama salaf maupun khalaf.
Cerita Nabi
Muhammad menerima wahyu pertama memiliki jeda beberapa saat sebelum akhirnya
Muhammad kembali bertemu dengan malaikat Jibril ketika Muhammad mendengar suara
dari langit dan menyaksikan malaikat yang sama duduk di antara langit dan bumi.
Setelah turunnya wahyu pertama ini, Muhammad terus menerus menerima Wahyu yang
akhirnya dikumpulkan menjadi Al-Qur’an.
NABI MUHAMMAD SAW WAFAT
Pagi itu, Rasulullah
dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam
kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.
Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai
sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan
bersama-sama masuk surga bersama aku.”
Khutbah singkat itu
diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu
persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik
turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala
nitu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap
Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh
sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya,
Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan
membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu
terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?”
tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang
demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali
menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
“Siapakah itu wahai anakku?”.”Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali
ini aku melihatnya,”tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya
itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian
wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan
kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah
malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat
maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut
bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah
bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia
ini. ” Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat
telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata
Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai
Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi
siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat
lehernya menegang.”Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan
Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin
dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak
tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa
maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan
hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.”Uushiikum bis-shalaati,
wamaa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah
di antaramu.” Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling
berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan
telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii,
ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang
memberi sinaran itu.
Thanks to :